Saturday, 2017-11-18, 8:46 PM
Majalah Samudra-Online
Welcome Guest | RSS
Site menu
News topics
Opini [5]
Kumpulan Opini Majalah Samudra
Lintas Samudra [0]
Berita singkat kelautan dan perikanan
Kolom Samudra [3]
Kumpulan Kolom Majalah Samudra
Iptek [3]
Kumpulan artikel ilmu pengetahuan teknologi kelautan dan perikanan
Budidaya [3]
Kumpulan artikel budidaya perikanan
Lingkungan [5]
Kumpulan artikel lingkungan
Our poll
Bagaimana Perkembangan Sektor Kelautan dan Perikanan Menurut Anda?
Total of answers: 12
Main » 2008 » December » 10 » Restrukturisasi Manajamen Perikanan Tuna (1)
Restrukturisasi Manajamen Perikanan Tuna (1)
2:27 PM
Bagian ke-1 dari beberapa tulisan

Oleh: Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS
 
Berbicara soal dunia perikanan rasanya kurang afdol, terasa hambar, bila tidak memasukkan sumberdaya ikan tuna. Pasalnya, jenis ikan yang sudah menjadi menu favorit para bangsawan sejak zaman Yunani dan Romawi kuno ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan permintaan (demand)-nya terus meningkat dari waktu ke waktu.

Peningkatan demand ini terutama disebabkan oleh kegemaran masyarakat Jepang menyantap sushi dan sashimi yang sejak dasa warsa terakhir ini. Kebiasaan itu lalu diikuti oleh masyarakat kelas menengah dan atas di negara-negara Barat, China, dan negara-negara maju baru (emerging economies) lainnya seperti Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Brunei Darussalam, Malaysia, India, Rusia, Brazil, Chile, dan negara-negara Teluk di Timur Tengah.

Permintaan ikan tuna dalam bentuk kalengan (canned tuna) dan olahan lainnya juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Selain rasanya yang lezat, membumbungnya konsumsi ikan tuna dunia juga karena kandungan protein, omega-3, dan mineral yang tinggi, serta sangat baik bagi kesehatan dan kecerdasan manusia.

Akibat tingginya permintaan tersebut, kebanyakan stok ikan tuna dunia, termasuk di perairan laut Indonesia, telah mengalami tangkap jenuh (fully exploited) atau tangkap lebih (overfishing). Bila kecenderungan ini tidak segera dikoreksi, bukan mustahil bahwa stok (persediaan) ikan tuna bakal habis atau punah dalam waktu dekat.

Sebagai salah satu produsen dan pengekspor utama ikan tuna dunia, Indonesia sangat berkepentingan untuk bersama bangsa-bangsa lain yang terkait melakukan pembenahan (restrukturisasi) manajemen perikanan tuna. Dengan harapan, sumber daya ikan tuna bisa tetap menjadi sumber pangan (protein hewani), penyumbang devisa, penyediaan lapangan kerja, dan kesejahteraan bagi bangsa Indonesia secara berkelanjutan.

Sampai sekarang, kelompok ikan tuna masih merupakan komoditas ekspor perikanan primadona Indonesia, dan penyumbang devisa terbesar kedua setelah udang. Pada tataran global, dewasa ini total hasil tangkap ikan tuna mencapai 4,2 juta ton atau sekitar 5 % dari total hasil tangkap ikan laut dunia (90 juta ton/tahun), dan menyumbang sekitar 10 % terhadap nilai total perdagangan produk perikanan dunia (US$ 100 miliar) (Atuna.com).

Untuk itu, tulisan ini mencoba mengulas potensi sumber daya ikan tuna, aspek produksi, aspek penanganan dan pengolahan hasil, aspek pasar dan perdagangan, serta kebijakan dan teknik manajemen perikanan tuna yang ada selama ini. Atas dasar semua informasi tersebut, sebuah solusi manajemen perikanan tuna ditawarkan dalam tulisan ini.
 
Potensi Ikan Tuna
Berbeda dengan jenis ikan laut lainnya, kelompok ikan tuna merupakan spesies yang mampu berenang sangat cepat dan jauh, dan secara bergerombol menempuh jarak ribuan mil, melintasi samudra yang satu ke lainnya (highly migratory species). Karena sifat unik inilah, manajemen perikanan tuna hanya dapat berhasil, jika dilakukan melalui kerja sama antarnegara yang perairan lautnya menjadi tempat kehidupan ikan tuna, baik untuk sebagian maupun keseluruhan daur hidup (life cycle)-nya. Menurut taksonomi (sistematika ikan), jenis-jenis ikan tuna termasuk ke dalam Famili Scombridae.

Secara global, terdapat 7 spesies ikan tuna yang memiliki nilai ekonomi penting, yaitu albacore (Thunnus alalunga), bigeye tuna (Thunus obesus), atlantic bluefin tuna (Thunnus thynnus), pacific bluefin tuna (Thunnus oreintalis), southern bluefin tuna (Thunnus maccoyii), yellowfin tuna (Thunnus albacares), dan skipjack tuna (Katsuwonus pelamis). Kecuali pacific bluefin dan southern bluefin tuna, kelima spesies tuna lainnya hidup dan berkembang di perairan Samudra Pasifik, Atlantik, dan Hindia.
Sejak tahun 2000, total hasil tangkapan dunia dari 7 spesies ikan tersebut sekitar 4 juta ton/tahun. Perinciannya 65 % berasal dari Samudra Pasifik, 21 % dari Samudra Hindia, dan 14 % dari Samudra Atlantik. Di antara 7 spesies tuna tersebut, cakalang merupakan spesies yang paling banyak (dominant) dihasilkan di ketiga samudra tersebut, sekitar 50 % dari total hasil tangkap tuna dunia.
Kendati demikian, berdasarkan data hasil tangkap per satuan upaya (catch per unit of effort), tingkat penangkapan cakalang dunia masih lebih kecil ketimbang potensi lestari (maximum sustainable yield, MSY)-nya. Sebaliknya, stok yellowfin tuna dan bigeye tuna kini sudah mengalami tangkap jenuh (fully exploited). Saat ini yellowfin tuna menyumbang sekitar 30 % terhadap total hasil tangkap tuna dunia, dan bigeye tuna sekitar 10 %.

Ini berarti, masyarakat dunia tidak boleh menambah laju penangkapan terhadap kedua jenis tuna ini. Akan lebih baik, bila kita mengurangi tingkat penangkapannya. Sementara itu, semua stok albacore tuna yang terdapat di enam daerah penangkapan dunia (world’s fishing grounds) telah mengalami tangkap jenuh atau tangkap lebih (overfishing). Namun demikian, tingkat penangkapan albacore tuna saat ini dinilai sesuai (compatible) dengan kemampuan pulih (recovery)-nya. Semua stok bluefin tuna telah mengalami tangkap jenuh, sehingga pengurangan laju penangkapan menjadi sebuah keharusan (Oceanic Development, Poseidon Aquatic Resource Management Ltd and Mega Pesca Lda, 2005).
Karena terletak di antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia yang merupakan habitat utama ikan tuna, perairan laut Indonesia kaya dengan sumber daya ikan tuna. Wilayah perairan laut Indonesia, yang meliputi perairan pesisir (pedalaman), perairan teritorial, perairan laut dalam (seperti Laut Banda dan Selat Makasar), dan ZEEI, merupakan alur migrasi beberapa jenis ikan tuna dunia dari Samudra Pasifik ke Samudra Atlantik, dan sebaliknya.

Kelompok ikan tuna akan berada (hidup dan berkembang biak) di suatu perairan, bila perairan tersebut mengandung banyak bahan makanan ikan tuna dan kondisi oseanografisnya (seperti suhu, salinitas, dan kecerahan) cocok bagi fisiologi ikan tuna. Oleh sebab itu, kelompok ikan tuna tersebar tidak hanya di perairan ZEEI dan laut dalam, tetapi juga di perairan teritorial, dan bahkan perairan pesisir yang memang cocok (suitable) bagi kehidupan spesies ikan tuna tertentu.
 
Ikan Tuna Indonesia
Ikan tuna yang hidup di perairan laut Indonesia dikelompokkan menjadi dua jenis, yakni ikan tuna besar dan ikan tuna kecil. Ikan tuna besar meliputi madidihang (yellowfin tuna), albakora (albacore), tuna mata besar (bigeye tuna), dan tuna sirip biru selatan (Southren bluefin tuna). Ikan madidihang dan mata besar terdapat di seluruh wilayah perairan laut Indonesia.

Sedangkan, albakora hidup di perairan sebelah barat Sumatera, selatan Bali sampai dengan Nusa Tenggara Timur. Ikan tuna sirip biru selatan hanya hidup di perairan sebelah selatan Jawa sampai ke perairan Samudra Hindia bagian selatan yang bersuhu rendah (dingin).

Sementara itu, ikan tuna kecil terdiri dari cakalang (skipjack tuna), tongkol (Euthynus affinis), tongkol kecil (Auxis thazard), dan ikan abu-abu (Thunnus tonggol). Ikan cakalang dapat dijumpai di seluruh perairan laut Indonesia, kecuali di Paparan Sunda bagian selatan, Selat Malaka, Selat Karimata, dan Laut Jawa.

Potensi lestari seluruh jenis ikan tuna di perairan laut Indonesia diperkirakan sebesar 342.400 ton/tahun, dan ikan cakalang sebesar 544.200 ton/tahun (Komisi Nasional Stock Assessment, 1998). Dengan demikian, total potensi lestari ikan tuna dan cakalang mencapai 886.600 ton/tahun atau sekitar 20 % dari total potensi ikan tuna dan cakalang dunia.

Namun, perlu dicatat bahwa telah ada kesepakatan antarpara ahli ikan tuna di dunia, bahwa belum ada seorangpun dari para ahli tersebut yang dapat memperkirakan (to assess) potensi lestari sumber daya ikan tuna secara akurat atau reasonable (Venema, 1997). Oleh karena itu, untuk memastikan kelestarian (sustainability) sumber daya ikan tuna dan usaha penangkapan ikan tuna itu sendiri, kita perlu menerapkan manajemen berbasis prinsip kehati-hatian (precautionary principles).

Artinya, kuota penangkapan setiap tahunnya mesti lebih kecil dari pada MSY ikan tuna. Selain itu, daerah-daerah pemijahan (spawning grounds) dan alur ruaya (migratory routes) harus kita konservasi serta kita lindungi dari pencemaran dan perusakan lingkungan lainnya.
(Bersambung).

 

Category: Kolom Samudra | Views: 5921 | Added by: Redaksi | Rating: 5.0/2 |
Total comments: 0
Name *:
Email *:
Code *:
Login form
News calendar
«  December 2008  »
SuMoTuWeThFrSa
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031
Search
Site friends
Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x
Copyright MyCorp © 2017Website builderuCoz