Saturday, 2017-11-18, 8:45 PM
Majalah Samudra-Online
Welcome Guest | RSS
Site menu
News topics
Opini [5]
Kumpulan Opini Majalah Samudra
Lintas Samudra [0]
Berita singkat kelautan dan perikanan
Kolom Samudra [3]
Kumpulan Kolom Majalah Samudra
Iptek [3]
Kumpulan artikel ilmu pengetahuan teknologi kelautan dan perikanan
Budidaya [3]
Kumpulan artikel budidaya perikanan
Lingkungan [5]
Kumpulan artikel lingkungan
Our poll
Bagaimana Perkembangan Sektor Kelautan dan Perikanan Menurut Anda?
Total of answers: 12
Main » 2009 » January » 8 » Budidaya Manjuhan ala Banjar
Budidaya Manjuhan ala Banjar
1:32 PM

 

Ikan Jelawat bisa mendatangkan untung jutaan rupiah. Cara budidayanya  tergolong mudah. Tubuh kedua ikan itu memanjang, bak torpedo. Gerakannya lincah secepat kilat. Sekilas, tak ada beda antara ikan jelawat dan nila. Namun jika diamati dengan teliti, ada perbedaan keduanya. Bentuk kepala sebelah atas ikan jelawat agak mendatar, mulut berukuran sedang, dan garis literal yang tak terputus dengan sisiknya yang sedang.
Beda dengan nila. Tubuh bagian punggungnya agak kemerah-merahan, sedang ikan jelawat justru berwarna kelabu kehijauan dengan bagian perut  putih keperakan.  “Pada bagian sirip dada dan perut jelawat pun terdapat warna merah,” ujar Wahyutomo, peneliti Balai Budidaya Air Tawar  Mandiangin, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Ikan jelawat banyak ditemui di Kalimantan dan Sumatera. Habitat yang disukai ikan ini adalah anak-anak sungai yang berlubuk dan berhutan di bagian tepinya.  Di lingkungan ini, ikan jelawat memakan buah-buahan, biji-bijian dan dedaunan yang lembut.

Pada saat air menyusut, anakan ikan jelawat secara bergerombol akan bermigrasi ke arah  hulu sungai. Ikan ini dapat bertahan hidup pada kelembapan (pH) 5-7, dengan oksigen terlarut 5-7 ppm dan suhu 25-37 derajat Celcius.

Masyarakat di Sumatra mengenal ikan ini dengan nama klemak, sedang warga  Kalimantan menyebutnya Manjuhan. Pada habitat alam, ikan ini bisa mencapai bobot 15 kilogram.

Meskipun tergolong ikan alam, jelawat juga bisa dibudidayakan secara khusus. Bahkan jika dilakukan dengan benar, bisa  meraih untung jutaan rupiah. “Kami biasa melakukannya di kolam atau dengan membangun keramba di sungai,” ujar Wahyu. Dalam melakukan pemilihan lokasi harus memperhatikan beberapa faktor teknis dan ekonomisnya.

Untuk pemilihan lokasi, baik kolam maupun keramba, harus memperhatikan sumber air. Apakah sungai atau saluran irigasi untuk menjamin ketersediaan air sepanjang tahun.  Kemudian kondisi tanah yang berpotensi menumbuhkan pakan alami. Kedalaman air juga harus tak kurang dari 80-100 sentimeter (cm). Perhatikan juga lingkungan sekitar kolam apakah bebas dari pencemaran, dilengkapi dengan sarana listrik dan jalan, jaminan keamanan dan kemudahan untuk pemasarannya.

“Hal yang paling penting dan sangat mempengaruhi dalam keberhasilan budidaya jelawat adalah kualitas air,” kata  Firdausi, Kepala Seksi Pelayanan Teknik, Balai Mandiangin. Menurutnya apabila kualitas air tidak mendukung maka usaha pembenihan maupuan pembesaran ikan ini tidak akan berjalan dengan baik.

Ada beberapa kriteria  kualitas air yang ideal untuk kelangsungan hidup jelawat. Yaitu suhu antara 23 hingga 31 derajat Celcius, kecerahan minimal 70 sentimeter, memiliki kandungan plankton minimal 40 %, kelembapan (pH) 6-7, dengan oksigen terlarut lebih dari 3 ppm.

Untuk menghasilkan benih yang berkualitas ada baiknya memilih calon induk hasil pembesaran daripada hasil tangkapan alam. Karena induk hasil pembesaran sudah terbiasa dengan kondisi makanan dalam lingkungan yang terkontrol dan biasanya lebih indukan jenis ini lebih jinak. Pilih calon induk yang memilki berat minimal 2,5 kg untuk betina dan 1,5 kg untuk jantan atau yang sudah berumur 2,5 tahun.

Calon induk bisa dipelihara dalam kolam yang memiliki kedalaman 70-100 cm dengan sisitem air mengalir dan uapayakan memenuhi kepadatan idela maksimal 5 -10 ekor/  m2 . Sedangkan untuk pemeliharaan dalam keramba tingkat kepadatan cukup 1-2/ m2 . Untuk meningkatkan kualitas kematangan gonad induk, pakan yang diberikan berupa pelet dengan campuran vitamin E berdosis 150 mg/kg pakan. Berikan pakan  3-5 % dari bobot biomassanya dengan frekuensi 3 kali sehari.

Dalam kondisi perairan yang terkontrol dan intensif, biasanya indukan sudah siap dipijahkan setelah 3-6 bulan.  Indukan jantan yang sudah memiliki gonad yang matang akan memiliki ciri-ciri sirip dada terasa lebih kasar, ukuran perut lebih langsing daripada betina, dan apabila diurut ke arah anusnya maka akan keluar cairan putih (sperma). Sedangkan untuk indukan betina akan memiliki ciri perut yang membesar dan lembut, sirip dada halus dan licin, apabila diurut ke arah anusnya maka akan keluar cairan kekuning-kuningan.

“Induk yang sudah memiliki gonad matang hasil seleksi sebaiknya ditimbang untuk mengetahui beratnya, sehingga dosis hormon dalam penyuntikan dapat ditentukan,” kata Firdausi.   Pada suhu normal 26-28 derajat Celcius, telur akan menetas dalam waktu 15-24 jam. Panen larva selanjutnya dapat dilakukan setelah berumur 1-2 hari untuk kemudian dapat dipelihara dalam akuarium atau bak pemeliharaan lainnya.

 

Teknik Pembesaran

Untuk pemanenan benih biasanya bisa dilakukan setelah 30 hari pemeliharaan atau ukuannya sudah mencapai 2-3 cm. “Jika sudah memperoleh persayaratan tersebut maka tahap selanjutnya adalah pembesaran,” jelas Firdausi.

Untuk pembesaran dalam keramba, benih yang ditebar sebaiknya yang sudah berukuran 3-5 cm dengan kepadatan 50-75 ekor/m2 dari bobot biomassanya. Selain itu perhatikan juga pola pemberian pakannya 2 kali sehari pada pagi dan sore hari. “Bisa juga diberi makanan berupa daun singkong, kangkung atau eceng gondok.

Sedangkan untuk pembesaran di kolam buatan, benih yang ditebar ukuran 3-5 cm dengan kepadatan 15-25 ekor/m2 . “Pola makan yang diberikan tak berbeda dengan teknik pembesaran dalam keramba,” ujarnya.

Hal yang patut diantisipasi dalam proses pembudidayaan jelawat mulai dari pembenihan hingga pembesaran adalah munculnya serangan hama dan penyakit. Unum,nya jenis penyakit yang biasa menyerang adalah jenis parasit seperti Trichodina sp, Lernea sp, argulus sp, dan Saprolegnia sp.

Cirinya antara lain warna tubuh menjadi tidak cerah, ikan sering menggosokan tubuhnya pada dinding kolam (Trichodina sp), terjadi pendarahan disertai infeksi jamur (Lernea sp), akan terlihat seperti kutu yang menempel dan terjadi pendarahan akibat gigitan hama (Argulus sp).

Untuk pengobatan dan pencegahannya bisa dilakukan dengan cara perendaman dalam larutan formalin 40 ppm, mengisolasi dan mematikan ikan yang terkena infeksi, atau  merendamnya dalam larutan garam dapur selama 15 menit. “Upaya pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan selalu menjaga kualitas air, lingkungan dan pakan yang diberikan,” kata Wahyu.

Hasil pembesaran yang sudah dilakukan di Balai Mandiangin, baik teknik keramba maupun kolam, diperoleh data bahwa dengan jangka waktu 9-11 bulan benih tersebut sudah mencaa ukuran rata-rata berat 1 kg/ekor.

Untuk harga pemasarannya sendiri memang cukup berfluktuasi. Harga benih ukuran 2-3 cm berkisar antara Rp 350-650/ekornya. Sedangkan ukuran 5-8 cm berkisar antara Rp 500-850/ekor.  Sedangkan untuk ukuran konsumsi per kg bisa mencapai Rp 20 ribu hingga Rp 45 ribu.

Karena masih belum banyak masyarakat yang membudidayakan ikan ini, maka bisa dipastikan dalam jangka waktu ke depan jelawat masih memiliki potensi dan prospek besar. 
(w.rahardjo)

 

Category: Budidaya | Views: 2631 | Added by: Redaksi | Rating: 4.5/2 |
Total comments: 0
Name *:
Email *:
Code *:
Login form
News calendar
«  January 2009  »
SuMoTuWeThFrSa
    123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
Search
Site friends
Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x
Copyright MyCorp © 2017Website builderuCoz